Last update01:11:19 PM GMT

You are here Berita Nasional DJPBN

DJPBN

Penipuan Diklat PBJ Masih Saja Gentayangan

Email Cetak PDF

Jakarta,  perbendaharaan.go.id – Penipuan dengan motif Diklat Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) masih saja beredar di lingkungan Instansi Pemerintah. Penipuan tersebut mengatasnamakan Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai Panitia Penyelenggara. Untuk itu, diharapkan seluruh Instansi Pemerintah diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terpengaruh atas usaha penipuan ini.

Motif yang digunakan pelaku adalah dengan cara mengirim surat undangan Diklat PBJ palsu secara acak kepada Instansi Pemerintah dengan harapan ada pegawai yang termakan tipuan tersebut. Pelaku penipuan tersebut berusaha meyakinkan calon korbannya dengan menggiring mereka untuk mentransfer sejumlah dana sebagai biaya registrasi dan pelaksanaan diklat. Padahal sudah terlihat jelas pada surat undangan palsu tersebut telah disebutkan bahwa para peserta tidak dibebankan biaya dalam pelaksanaan kegiatan Diklat. Tak pelak, beberapa pegawai Instansi Pemerintah tersebut terpancing untuk men-transfer sejumlah uang pada rekening yang diminta penyelenggara Diklat PBJ bodong tersebut.

Sampai saat ini, beberapa Instasi Pemerintah telah menjadi korban. Mereka baru menyadari bahwa Diklat PBJ tersebut fiktif, setelah melakukan konfirmasi langsung pada Ditjen Perbendaharaan sebagai “penyelenggara”.

Melihat semakin seringnya percobaan penipuan ini dilakukan, maka hal ini perlu menjadi perhatian untuk diwaspadai bagi setiap Instansi Pemerintah di mana pun berada. Melalui publikasi ini, perlu diketahui bahwa Ditjen Perbendaharaan tidak pernah mengadakan Diklat Pengadaan Barang dan Jasa bagi Instansi Pemerintah atau Kementerian/Lembaga, melainkan hanya bagi instansi vertikal dalam lingkup Ditjen Perbendaharaan saja. Selain itu, Ditjen Perbendaharan juga tidak pernah meminta sejumlah uang untuk di transfer pada rekening tertentu apalagi untuk keperluan pendaftaran/ registrasi peserta Diklat.

Apabila anda ingin tahu lebih banyak mengenai hal ini, kami persilahkan untuk menghubungi Ditjen Perbendaharaan c.q Bagian Pengembangan Pegawai dengan nomor 021-3846322.

BREAKING NEWS : Selamat, LKPP Naik Pangkat!

Email Cetak PDF

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan opini yang diberikan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2009 (audited) adalah Wajar Dengan Pengecualian (WDP) atau qualified opinion. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BPK Hadi Poernomo dalam penyampaian laporan hasil pemeriksaan BPK RI atas LKPP 2009 kepada DPR-RI di Gedung DPR-RI, Jakarta, Selasa (01/06). Berarti, terjadi peningkatan opini atas LKPP dari lima tahun sebelumnya (2004 – 2008) yang memperoleh opini Tidak Menyatakan Pendapat atau disclaimer opinion.

BPK secara khusus menghargai hasil kerja keras pemerintah dalam rangka memperbaiki akuntabilitas keuangan negara. Peningkatan opini ini antara lain didukung oleh peningkatan kualitas Laporan Keuangan Kementerian Lembaga (LKKL), yang tercermin dari semakin pesatnya LKKL yang memperoleh opini WTP, dari 7 pada tahun 2006, menjadi 16 pada 2007, kemudian 35 pada 2008, dan terakhir menjadi 45 pada 2009.

"Peningkatan opini LKPP ini tidak lepas dari peningkatan dalam penyajian laporan keuangan kementerian atau lembaga dengan memperbaiki sistem pembukuan dan sistem teknologi informasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menata kekayaan instansi, serta mematuhi peraturan yang berlaku," ujar Hadi Poernomo.

Pemeriksaan LKPP tahun 2009 meliputi laporan realisasi anggaran (LRA), neraca, laporan arus kas (LAK), dan catatan atas laporan keuangan (CaLK). Dalam laporan realisasi anggaran tahun 2009 pemerintah melaporkan realisasi pendapatan sebesar Rp848,76 triliun, dan realisasi belanja sebesar Rp937,38 triliun. Pendapatan negara tahun 2009 tersebut mencapai 97% dibandingkan anggaran sebesar Rp871 triliun atau hanya sebesar 86% dibandingkan pendapatan tahun 2008 yang sebesar Rp981,61 triliun.

Jenis pendapatan yang mengalami penurunan paling tinggi di 2009, adalah penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dengan penurunan sebesar Rp93,43 triliun atau turun 29% dibandingkan dengan tahun 2008. Realisasi penerimaan pajak tahun 2009 adalah sebesar Rp619,92 triliun atau hanya mencapai 95% dari anggaran sebesar Rp651,95 triliun. Penerimaan perpajakan tahun 2009 tersebut juga mengalami penurunan sebesar Rp38,78 triliun atau turun 6% jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2008.

Belanja negara tahun 2009 seluruhnya berjumlah Rp937,38 triliun atau 94% dari anggaran sebesar Rp1.000,84 triliun. Pada neraca pemerintah pusat , total aset yang disajikan sebesar Rp2.122,89 triliun atau naik sebesar Rp51,19 triliun dibandingkan total aset tahun 2008 sebesar Rp2.071,70 triliun.

Ada tiga permasalahan yang ditemukan BPK dalam pemeriksaan LKPP tahun 2009,  permasalahan tersebut antara lain: pertama, ketidaksesuaian antara klasifikasi anggaran dan realisasi penggunaannya minimal sebesar Rp27,51 triliun. Kedua, terdapat permasalahan dalam pelaksanaan inventarisasi dan penilaian (IP) aset tetap. Ketiga, pemerintah belum mencatat kewajiban dana pensiun dan tunjangan hari tua (THT) sebesar Rp7,34 triliun yang timbul akibat kenaikan gaji PNS pada 2007-2009.

Menurut Hadi Poernomo, permasalahan tersebut merupakan gabungan antara ketidaksesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintah 2005, kelemahan sistem pengendalian intern, dan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam penutupnya, Ketua BPK berharap DPR dapat membantu tindak lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) LKPP oleh pemerintah sehingga tidak ada masalah yang sama pada tahun berikutnya dan kualitas LKPP dapat terus ditingkatkan oleh pemerintah.

Oleh : Novri H.S. Tanjung dan Tino A. Prabowo – Media Center Ditjen Perbendaharaan

SRI MULYANI: PEGAWAI KEMENKEU INGIN REFORMASI JALAN TERUS

Email Cetak PDF

Liputan serah terima jabatan Menteri Keuangan
Jakarta, perbendaharaan.go.id – Tuntas sudah masa perjuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan RI seiring serah terima jabatan yang dilakukannya di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 20 Mei 2010. Namun dia menyadari bahwa sesungguhnya reformasi birokrasi yang dilakukannya belum selesai. Dalam pidatonya Sri Mulyani menjelaskan tentang keinginan para pegawainya untuk tetap melanjutkan reformasi. “Banyak sekali teman-teman di Kementerian Keuangan yang ingin berbuat baik, sedang berbuat baik dan ingin terus melakukannya,”  kata Sri Mulyani Indrawati saat menyampaikan pidato serah terima jabatan Menteri Keuangan kemarin.

Tidak sampai lima tahun, wanita yang sebentar lagi menduduki jabatan Direktur Operasional Bank Dunia ini memimpin Kementerian Keuangan, namun sudah banyak yang beliau lakukan untuk memperbaiki kementerian yang dipimpinnya itu. “Selama hampir lima tahun saya memimpin Kementerian Keuangan, banyak hal yang dialami,” ungkapnya. “Di dalam pengelolaan ekonomi, Indonesia diakui mengalami banyak kemajuan, baik itu ekonomi makro maupun dari sektor riil. Baik dari indikator-indikator yang mudah dilihat maupun yang relative susah dilihat, seperti masalah confident dan persepsi,” lanjut Sri Mulyani. “Dan diakui, penyumbang terbesar dari kemajuan itu adalah dari Kementerian Keuangan,” tambahnya lagi.

Dalam kebijakan fiskal di masa kepemimpinannya, Sri Mulyani menjelaskan tentang keberhasilannya meski masih ada hal-hal yang belum dicapai. “Ada hal-hal yang baik yang perlu dipertahankan, namun harus ditingkatkan karena masih ada hal-hal yang belum dicapai,” jelas istri Tony Sumartono ini. “Kementerian Keuangan telah memiliki perangkat-perangkat yang cukup baik, namun masih bisa diperbaiki lagi dalam mendukung kebijakan-kebijakan sektor riil,” tambahnya.

alam pidato pengantar sertijab yang lebih merupakan pesan-pesannya kepada Menteri Keuangan yang baru itu, Sri Mulyani memaparkan proses reformasi yang telah dilakukan di Kementerian Keuangan. “Di Direktorat Jenderal Pajak, kita telah melakukan reformasi jilid II dengan memperbaiki system data base, dengan melakukan intesifikasi dan ekstensifikasi dengan menggunakan based marking profiling, dan sisi governence tata kelola untuk mengurangi penyelewengan maupun tindakan-tindakan yang tidak baik dari fiskus maupun wajib pajak ,” paparnya.

Di bidang perbendaharaan, Sri Mulyani secara khusus memberikan penekanan bahwa sudah banyak reformasi yang dilakukan di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Dia sangat optimis bahwa akan ada percepatan treasury function, mengingat menteri yang baru seorang perbankan. “Sudah banyak reformasi yang dilakukan di Ditjen Perbendaharaan, memberikan pelayanan yang sangat baik mulai dari penggunaan anggaran, pengelolaannya dan juga reportingnya,” tegas Sri Mulyani.  “Di bidang perbendaharaan, saya merasa sangat optimis, karena Pak Agus (Agus Martowardoyo-red) dengan latar belakang seorang bankers, akan dapat mempercepat treasury function,” lanjut beliau.

Di samping berpesan melalui pemaparan pengalamannya selama memimpin Kementerian Keuangan, Sri Mulyani juga menyinggung tujuh tugas yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono kepada Menteri Keuangan, Agus Martowardojo.

Sebelumnya, seperti yang dilansir pada detikfinance.com saat melantik duet Agus Martowardojo dan Anny Ratnawati sebagai Menteri dan Wakil menteri Keuangan, Presiden SBY menyampaikan tujuh tugas yang harus dilaksanakan. Ketujuh tugas itu adalah:


1. Menyusun kebijakan fiskal yang prudent dan tepat.
”APBN kita sekarang nilainya lebih dari Rp 1.000 triliun, susun APBN yang tepat dalam arti bisa mengalokasikan anggaran untuk pemerintah secara umum. Lalu untuk pembangunan, jaring pengaman sosial, subsidi, dan terutama kewajiban utang. Kita ingin untuk memperkecil beban utang luar negeri kita," urai Presiden.

2. Meningkatkan pendapatan dalam negeri baik dari pajak atau non pajak dengan cara mengeluarkan kebijakan dan instrumen yang tepat dan pengawasan yang efektif agar di masa depan penerimaan negara makin besar.

3. Meneruskan reformasi perpajakan, meningkatkan kinerja lembaga pajak, meningkatkan perolehan subsektor perpajakan dan mencegah penyimpangan yang bisa terjadi.

4. Meneruskan reformasi bea cukai agar penerimaan dan iklim bisnis berlangsung baik.

5. Mengembangkan kebijakan desentralisasi fiskal yang lebih luas.
"Kita harus mengalirkan anggaran yang lebih besar ke daerah sesuai otonomi daerah dan sistem yang desentralistik dengan catatan bangun kapasitas daerah untuk bisa menggunkan anggaran yang besar itu disertai pengawasan dan pembimbingan yang tepat," jelas SBY.

6. Meningkatkan kualitas pertanggungjawaban keuangan negara, tidak hanya di pusat tapi juga diseluruh daerah.
"Setiap rupiah uang negara harus dipertanggungjawabkan, lakukan sinergi yang baik dengan BPK dan BPKP," imbuh presiden.

7. Dalam rangka kerjasama global, terus memainkan peranan yang aktif sebagaimana dilakukan Indonesia, dan menteri keuangan sebelumnya baik di forum G20, APEC, ASEAN, kerjasama dengan Bank Dunia, ADB, dan IDB.
"Tugas yang tidak ringan dan sangat penting tapi saya yakin dengan tanggung jawab, semangat semua itu bisa dilaksanakan dengan baik. Kalau ada masalah, laporkan kepada Presidan dan atau Wapres untuk bersama-sama kita carikan jalan keluarnya," pesan Presiden.

Di tengah pidatonya, Sri Mulyani tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan suami dan anak-anaknya. "Semua yang saya lakukan untuk Indonesia tidak bisa saya lakukan tanpa dukungan dari Tony Sumartono," ujarnya dengan nada yang mulai bergetar. "Anak-anak yang menjadi pusat kekuatan dalam menjalankan semua tugas-tugas. Untuk itu saya ingin menyampaikan terima kasih," tuturnya sesegukkan.

Siap Melanjutkan Reformasi Birokrasi
Sementara itu dalam sambutannya saat menerima jabatan dari Sri Mulyani, Agus Martowardojo menyatakan kekagumannya dengan kinerja di jajaran kementerian Keuangan dan siap untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang sudah berjalan. ”Kami sangat kagum dengan prestasi Departemen Keuangan saat ini,” kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo. ”Kita, di Kementerian Keuangan akan meneruskan etos kerja yang sudah ada, dan juga martabat kebanggaan kita sebagai korps pegawai negeri sipil” lanjutnya. ”Meski kita paham, remunerasi di Kementerian Keuangan belumlah mencerminkan demikian, namun marilah kita bangun komitmen, bangun niat untuk bekerja bersama, kita jalankan Kementerian Keuangan ini dengan sebaik-baiknya agar kita dapat menciptakan karya untuk Indonesia,” tegasnya lagi.

Secara khusus, Menteri Keuangan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sri Mulyani Indrawati yang telah membangun landasan sistem yang kuat di Kementerian Keuangan. ”Ibu Sri Mulyani Indrawati, terima kasih untuk semua landasan yang telah Ibu susun di lingkungan Kementerian Keuangan,” ucapnya. ”Kita akan teruskan apa yang telah dilakukan oleh Ibu Sri Mulyani Indrawati,” tambahnya menutup pidato penerimaan jabatan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani.

Oleh: Bambang Kismanto dan Tino A. P – Media Center Perbendaharaan

Sri Mulyani : Reformasi Tidak Berhenti Karena Pimpinannya Berganti

Email Cetak PDF

Jakarta, perbendaharaan.go.id -Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengakui memberikan perhatian Kepada Ditjen Perbendaharaan yang merupakan inti dari reformasi keuangan Negara. Untuk itu Beliau begitu tekun, teliti dan detail dalam mengikuti dinamika persoalan maupun perkembangan serta reformasi yang terjadi di Ditjen Perbendaharaan. Hal tersebut disampaikan dalam sambutan pelantikan pejabat Eselon II lingkup Kementerian Keuangan, Rabu (12/5), di Gedung Kemenkeu Jakarta.

“Saya tahu perubahan culture, perubahan organisasi, bahkan perubahan fungsi dan peran itu tidak mudah. Dan oleh karena itu, saya hormati seluruh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan, mencoba terus untuk merespon, disatu sisi untuk terus menterjemahkan apa yang menjadi tujuan, esensi dari Undang-undang Keuangan Negara, Undang-undang Perbendaharaan Negara, Undang-undang mengenai Pertanggungjawaban Keuangan Negara secara sehakiki mungkin.” Ungkap Sri Mulyani.

Dalam kesempatan tersebut pula, langkah-langkah perubahan pelayanan yang ada dalam organisasi Ditjen Perbendaharaan mendapat apresiasi positif. Hal tersebut, dinilai oleh beliau sebagai langkah yang konsisten sehingga patut untuk dilanjutkan, dengan memonitor secara ketat jajaran Ditjen Perbendaharaan dalam pencapaian sasaran pelayanan yang terbaik, kenaikan disiplin serta produktifitas.

Dalam hal manajemen sumber daya manusia, Sri Mulyani yang dalam waktu dekat akan melepas jabatannya sebagai Menteri Keuangan, menganggap perlu sebuah rencana ambisius dalam merekrut, maupun mendidik, dan mengembangkan sumber daya manusia yang sudah ada. Hal itu merupakan modal dalam menciptakan organisasi yang dinamis sesuai misi dan fungsi sebagai bendahara umum Negara.
Lebih lanjut beliau mengatakan, “Saya mendengar untuk pelayanan sudah semakin baik, apalagi kalau pakai otomatisasi dan sistem manajemen Front Ofice, Middle, dan Back Office. Saya juga yakin korupsi sudah sangat menurun, kalau bisa dikatakan moga-moga nol.”  Beliau juga menambahkan, “Saya anggap dalam hal ini, apa yang dilakukan di Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk memperbaiki governance, bisnis proses, maupun dalam memberikan reward dan punishment sudah berjalan cukup baik dan perlu untuk diteruskan.”

Tidak lupa pula  Menteri Keuangan mengingatkan kembali komitmen bersama untuk menjaga proses reformasi birokrasi, sebagai panggilan dan harapan dari masyarakat untuk terus melihat Kementerian Keuangan sebagai icon positif dalam reformasi.
“Reformasi adalah kebutuhan organisasi, dia tidak berhenti karena pimpinannya berganti, karena dia ada dalam jiwa dan ruh dari organisasi itu.” Tegas beliau.

Di akhir samabutan beliau menyampaikan, “Kemenangan itu adalah apabila kita tidak pernah menghianati kebenaran. Kemenangan itu adalah apabila kita tidak pernah melukai dan menodai hati nurani kita.”

Tentu kalimat tersebut akan menjadi inpirasi bagai seluruh jajaran Ditjen Perbendaharaan dalam menjalankan tugas sebagai pejabat yang berorientasi pada kemenangan, kebenaran, nurani, dan martabat diri.

Oleh : Novri H.S. Tanjung dan Tino A. Prabowo – Media Center Ditjen Perbendaharaan

HARU, SUASANA RAPIMNAS DITJEN PERBENDAHARAAN

Email Cetak PDF

Liputan pembukaan Rapimnas Ditjen Perbendaharaan
Jakarta, perbendaharaan.go.id – Sri Mulyani Indrawati adalah wanita luar biasa. Lima tahun kepemimpinannya telah berhasil menumbuhkan kecintaan mendalam di hati para pegawai di lingkungan kementerian yang dipimpinnya. Haru, sedih. Itulah yang tergambar pada acara perpisahan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perbendaharaan di Jakarta (Senin, 17 Mei 2010) kemarin. Kegiatan yang bertempat di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta, dilangsungkan dengan suguhan teatrikal karya orisinal tim kreatif Ditjen Perbendaharaan.

“Seorang ibu, mempunyai perasaan yang kontradiktif. Bangga dan bahagia. Sekaligus sedih,” ungkap Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya. “Saya terharu, saya merasa istimewa, ditempatkan secara istimewa di hati Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian,” lanjutnya dengan suara tertahan mengomentari suguhan istimewa tersebut. Air mata tampak mengalir di ujung matanya.

Dengan iringan musik instrumentalia dan alunan puisi, seorang pemuda, pegawai Ditjen Perbendaharaan mengisahkan perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi seorang yang berpendirian teguh, berpegang pada hati nurani dan berjuang untuk harga dirinya seperti sekarang ini, dia adalah seorang pemuda dengan masa lalu yang kelam. Dia adalah seorang yang tamak. Menginjak-injak mitra kerja dan memburu harta dengan cara haram adalah pekerjaannya sehari-hari. Suatu saat dia kehilangan kendali dirinya. Dia merasa hatinya kosong dan hitam. Layaknya pencarian yang sia-sia, semakin dia mencari, maka semakin jauh dia dengan hati nuraninya.  Hingga datanglah seorang bunda yang membawa cahaya. Dia merasakan kehangatan pelukan bunda yang menguatkan tekadnya, dan membangunkan diri dari keterpurukannya. Seorang bunda datang menyapa dan memberikan sentuhan lebut. Lisannya membisikkan kebenaran ke telinga sang pemuda.

Tetapi sayang, di kala sang pemuda hampir saja mampu bangkit dari keterpurukannya. Mulai menemui jati dirinya kembali, sang bunda harus pergi meninggalkanya. Dia tidak rela bundanya pergi. Dia takut ditinggalkan bundanya yang telah memberikan contoh perilaku terpuji. Mengajarkan ketegaran dalam setiap cobaan dan hujatan.

Sang pemuda segera sadar. Bahwa bundanya pergi untuk tugas yang tak kalah mulia. Maka perlahan kesadarannya bangkit. Di dalam jiwanya dia ukir janji setia karena cintanya kepada bundanya.

Bunda...
Hentikan memanggil kami anakmu…
Bila aku berhenti menjalankan reformasi

Bunda...
Hentikan memanggil kami anakmu
Bila aku menanggalkan harga diri demi sesuap nasi yang tak lama segera basi

Penggalan cerita yang disuguhkan dalam menyambut kedatangan Ibu Menteri Keuangan di acara Pembukaan Rapimnas Ditjen Perbendaharaan, begitu menyentuh hati beliau hingga ketika pada akhir sajian teater, beliau terlihat terisak menerima bunga dari Sarimin, pelaksana Direktorat Pengelolaan Kas Negara (PKN) yang menjadi aktor utama dalam mini teatrikal bertajuk ”Bunga untuk Bunda”.

Menanggapi acara tersebut, beliau mengatakan, “Saya yakin, reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan akan terus berjalan,” kata Sri Mulyani. ”Kementerian Keuangan dipegang oleh orang-orang yang baik seperti Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian,” lanjutnya disambut tepuk tangan para peserta rapimnas.

Dalam pengarahan di acara rapimnas yang menjadi acara perpisahan tersebut, Sri Mulyani menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada jajaran Direktorat Jenderal Perbendaraan. “Paling sulit dan paling awal adalah memimpin diri sendiri,” kata beliau mengawali pesannya. “Maka, dengarkan kebenaran walaupun kadang terdengar pelan, tertekan oleh hiruk pikuk dunia luar,” lanjutnya. “Dengarkan hati nurani!,” tambahnya.

Mengenai reformasi yang berjalan di lingkungan Ditjen Perbendaharaan, Menteri Keuangan memberikan apresiasinya. ”Ditjen Perbendaharaan mengalami evolusi, menemukan jati dirinya,” kata Sri Mulyani. “Cerita yang baik ini adalah dari Anda, jaga agar tetap baik,” pesannya lagi.

Menteri Keuangan berharap, dirinya tidak menyesali kepergiannya meninggalkan Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan akan tetap baik meski dia tinggalkannya. ”Saya tidak ingin ada orang yang mengungkapkan bahwa kamu pasti menyesali kamu pergi meninggalkan Kementerian Keuangan. Sebab sepeninggalmu, Kementerian Keuangan menjadi tidak baik,” pesannya penuh kesungguhan kepada para peserta.

“Ditjen Perbendaharaan adalah motor reformasi di bidang Treasury. Jadi jangan hanya layout-nya saja yang berubah, tetapi juga isinya. Orang-orang di dalamnya,” pesan beliau selanjutnya mengomentari perubahan yang dilakukan di kantor-kantor wilyah yang beliau resmikan beberapa waktu yang lalu. “Tolong dijaga kontinyuitas prosesnya,” tambahnya.

“Pekerjaan Anda adalah pondasi negeri ini, tolong jaga terus untuk eksistensi republik ini,” tutupnya.

Acara pembukaan rapim diakhiri dengan pemberian cindera mata kepada Menteri Keuangan dari keluarga besar Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Sebuah lukisan karikatur yang menggambarkan usaha Sri Mulyani bersama pimpinan Ditjen Perbendaharaan membersihkan organisasi dari sampah-sampah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara secara pribadi, Herry Purnomo, Direktur Jenderal Perbendaharaan, menghadiahkan sebuah lukisan diri Sri Mulyani. “Saya teringat di awal kepemimpinan ibu, ibu sempat menggoreskan sebuah lukisan. Maka pada hari ini saya menghadiahi ibu sebuah lukisan. Jadi, dimulai dengan lukisan diakhiri dengan lukisan,” kata Herry Purnomo.

Selamat jalan bunda. Kami akan selalu ingat perjalanan kita bersama. Menuruni lembah, mendaki ngarai di tengah dinginnya malam yang menusuk.
Engkau datang ketika kami terpuruk, tersungkur dan tenggelam dalam hilangnya diri.

Engkau mengangkat kami dengan hangatnya sejuta harapan dan sebuncah impian, namun kerja belum selesai.
Izinkan kami berterima kasih dalam bentuk yang paling sederhana,

Ada bongkah doa yang kami selipkan pada setangkai bunga,
Bahwa Tuhan akan membalas apa yang telah Engkau perbuat bagi bangsa.


(Oleh: Bambang Kismanto, Tino A.P., Sugeng Wistriono dan Novri H.S.T – Media Center Perbendaharaan)

HARU, SUASANA RAPIMNAS DITJEN PERBENDAHARAAN

Halaman 1 dari 3

  • «
  •  << 
  •  < 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  > 
  •  >> 
  • »