Liputan pembukaan Rapimnas Ditjen Perbendaharaan (Oleh: Bambang Kismanto, Tino A.P., Sugeng Wistriono dan Novri H.S.T – Media Center Perbendaharaan)
Jakarta, perbendaharaan.go.id – Sri Mulyani Indrawati adalah wanita luar biasa. Lima tahun kepemimpinannya telah berhasil menumbuhkan kecintaan mendalam di hati para pegawai di lingkungan kementerian yang dipimpinnya. Haru, sedih. Itulah yang tergambar pada acara perpisahan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perbendaharaan di Jakarta (Senin, 17 Mei 2010) kemarin. Kegiatan yang bertempat di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta, dilangsungkan dengan suguhan teatrikal karya orisinal tim kreatif Ditjen Perbendaharaan.
“Seorang ibu, mempunyai perasaan yang kontradiktif. Bangga dan bahagia. Sekaligus sedih,†ungkap Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya. “Saya terharu, saya merasa istimewa, ditempatkan secara istimewa di hati Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian,†lanjutnya dengan suara tertahan mengomentari suguhan istimewa tersebut. Air mata tampak mengalir di ujung matanya.
Dengan iringan musik instrumentalia dan alunan puisi, seorang pemuda, pegawai Ditjen Perbendaharaan mengisahkan perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi seorang yang berpendirian teguh, berpegang pada hati nurani dan berjuang untuk harga dirinya seperti sekarang ini, dia adalah seorang pemuda dengan masa lalu yang kelam. Dia adalah seorang yang tamak. Menginjak-injak mitra kerja dan memburu harta dengan cara haram adalah pekerjaannya sehari-hari. Suatu saat dia kehilangan kendali dirinya. Dia merasa hatinya kosong dan hitam. Layaknya pencarian yang sia-sia, semakin dia mencari, maka semakin jauh dia dengan hati nuraninya. Â Hingga datanglah seorang bunda yang membawa cahaya. Dia merasakan kehangatan pelukan bunda yang menguatkan tekadnya, dan membangunkan diri dari keterpurukannya. Seorang bunda datang menyapa dan memberikan sentuhan lebut. Lisannya membisikkan kebenaran ke telinga sang pemuda.
Tetapi sayang, di kala sang pemuda hampir saja mampu bangkit dari keterpurukannya. Mulai menemui jati dirinya kembali, sang bunda harus pergi meninggalkanya. Dia tidak rela bundanya pergi. Dia takut ditinggalkan bundanya yang telah memberikan contoh perilaku terpuji. Mengajarkan ketegaran dalam setiap cobaan dan hujatan.
Sang pemuda segera sadar. Bahwa bundanya pergi untuk tugas yang tak kalah mulia. Maka perlahan kesadarannya bangkit. Di dalam jiwanya dia ukir janji setia karena cintanya kepada bundanya.
Bunda...
Hentikan memanggil kami anakmu…
Bila aku berhenti menjalankan reformasi
Bunda...
Hentikan memanggil kami anakmu
Bila aku menanggalkan harga diri demi sesuap nasi yang tak lama segera basi
Penggalan cerita yang disuguhkan dalam menyambut kedatangan Ibu Menteri Keuangan di acara Pembukaan Rapimnas Ditjen Perbendaharaan, begitu menyentuh hati beliau hingga ketika pada akhir sajian teater, beliau terlihat terisak menerima bunga dari Sarimin, pelaksana Direktorat Pengelolaan Kas Negara (PKN) yang menjadi aktor utama dalam mini teatrikal bertajuk â€Bunga untuk Bundaâ€.
Menanggapi acara tersebut, beliau mengatakan, “Saya yakin, reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan akan terus berjalan,†kata Sri Mulyani. â€Kementerian Keuangan dipegang oleh orang-orang yang baik seperti Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian,†lanjutnya disambut tepuk tangan para peserta rapimnas.
Dalam pengarahan di acara rapimnas yang menjadi acara perpisahan tersebut, Sri Mulyani menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada jajaran Direktorat Jenderal Perbendaraan. “Paling sulit dan paling awal adalah memimpin diri sendiri,†kata beliau mengawali pesannya. “Maka, dengarkan kebenaran walaupun kadang terdengar pelan, tertekan oleh hiruk pikuk dunia luar,†lanjutnya. “Dengarkan hati nurani!,†tambahnya.
Mengenai reformasi yang berjalan di lingkungan Ditjen Perbendaharaan, Menteri Keuangan memberikan apresiasinya. â€Ditjen Perbendaharaan mengalami evolusi, menemukan jati dirinya,†kata Sri Mulyani. “Cerita yang baik ini adalah dari Anda, jaga agar tetap baik,†pesannya lagi.
Menteri Keuangan berharap, dirinya tidak menyesali kepergiannya meninggalkan Kementerian Keuangan. Kementerian Keuangan akan tetap baik meski dia tinggalkannya. â€Saya tidak ingin ada orang yang mengungkapkan bahwa kamu pasti menyesali kamu pergi meninggalkan Kementerian Keuangan. Sebab sepeninggalmu, Kementerian Keuangan menjadi tidak baik,†pesannya penuh kesungguhan kepada para peserta.
“Ditjen Perbendaharaan adalah motor reformasi di bidang Treasury. Jadi jangan hanya layout-nya saja yang berubah, tetapi juga isinya. Orang-orang di dalamnya,†pesan beliau selanjutnya mengomentari perubahan yang dilakukan di kantor-kantor wilyah yang beliau resmikan beberapa waktu yang lalu. “Tolong dijaga kontinyuitas prosesnya,†tambahnya.
“Pekerjaan Anda adalah pondasi negeri ini, tolong jaga terus untuk eksistensi republik ini,†tutupnya.
Acara pembukaan rapim diakhiri dengan pemberian cindera mata kepada Menteri Keuangan dari keluarga besar Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Sebuah lukisan karikatur yang menggambarkan usaha Sri Mulyani bersama pimpinan Ditjen Perbendaharaan membersihkan organisasi dari sampah-sampah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara secara pribadi, Herry Purnomo, Direktur Jenderal Perbendaharaan, menghadiahkan sebuah lukisan diri Sri Mulyani. “Saya teringat di awal kepemimpinan ibu, ibu sempat menggoreskan sebuah lukisan. Maka pada hari ini saya menghadiahi ibu sebuah lukisan. Jadi, dimulai dengan lukisan diakhiri dengan lukisan,†kata Herry Purnomo.
Selamat jalan bunda. Kami akan selalu ingat perjalanan kita bersama. Menuruni lembah, mendaki ngarai di tengah dinginnya malam yang menusuk.
Engkau datang ketika kami terpuruk, tersungkur dan tenggelam dalam hilangnya diri.
Engkau mengangkat kami dengan hangatnya sejuta harapan dan sebuncah impian, namun kerja belum selesai.
Izinkan kami berterima kasih dalam bentuk yang paling sederhana,
Ada bongkah doa yang kami selipkan pada setangkai bunga,
Bahwa Tuhan akan membalas apa yang telah Engkau perbuat bagi bangsa.
HARU, SUASANA RAPIMNAS DITJEN PERBENDAHARAAN
HARU, SUASANA RAPIMNAS DITJEN PERBENDAHARAAN
Set as favorite
Bookmark
Email This
Comments (0)
Write comment






Jl. Milono No. 02 Tanjung Redeb / 77312
Tel: 0554-26818 Fax: 0554-26819 e-mail: info@kppn-tanjungredeb.net